MINAHASA UTARA, SULAWESI UTARA - Keluarga besar Siby–Peleh menyampaikan rasa terima kasih kepada Bupati Joune James Esau Ganda yang telah meluangkan waktu untuk datang melayat ke rumah duka di Desa Keregesan, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Senin (9/3/2026).
Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Minahasa Utara tersebut dinilai sebagai bentuk empati dan kepedulian pemerintah daerah terhadap keluarga yang tengah berduka atas berpulangnya Pdt. Emeritus Christian Siby pada usia 84 tahun.
Mewakili keluarga , cucu almarhum, Jesicha Siby, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh Bupati Joune Ganda bersama rombongan pemerintah daerah yang hadir langsung di rumah duka.
“Kami keluarga besar Siby–Peleh mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Joune Ganda yang telah hadir dan memberikan dukungan serta belasungkawa kepada keluarga kami. Kehadiran beliau menjadi penguatan bagi kami di tengah masa duka,” tutur Jesicha.
Ia juga berharap agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, hikmat, dan perlindungan kepada Bupati Joune Ganda dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Minahasa Utara.
Selain kepada pemerintah daerah, keluarga Siby–Peleh turut menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Desa Keregesan serta seluruh pihak yang telah membantu proses pelayanan di rumah duka hingga berlangsung dengan baik dan penuh penghormatan.
Kenangan Terakhir Bersama Sang Opa
Dalam kesempatan tersebut, Jesicha juga mengenang momen terakhir bersama almarhum sang opa tercinta.
Ia mengungkapkan bahwa pada 6 Maret 2026, keluarga masih sempat merayakan ulang tahun ke-84 almarhum dalam suasana penuh kebersamaan di rumah.
“Pada siang hari kami masih merayakan ulang tahun opa bersama keluarga. Opa bahkan masih meniup lilin ulang tahun. Namun pada sore harinya, Tuhan memanggil opa untuk kembali ke pangkuan-Nya,” ungkapnya dengan haru.
Kepergian Pdt. Emeritus Christian Siby meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar yang sangat mencintainya.
Meski demikian , keluarga menyatakan tetap berusaha menerima peristiwa tersebut dengan iman dan pengharapan.
“Kami sangat menyayangi opa, tetapi kami percaya Tuhan lebih mengasihinya. Karena itu kami bersyukur dan menerima semuanya sebagai kehendak Tuhan,” tutur Jesicha.
(Laporan🖋️: A. Sonya Hartin Sangian)



