Sorotanwarga.com, Soppeng - Tak mau setengah-setengah dalam memperkuat sektor pertanian daerah, Pemerintah Kabupaten Soppeng mulai menggenjot program optimasi lahan non rawa tahun 2026 dengan potensi pengembangan lahan mencapai 8.315,58 hektare berdasarkan hasil Survei Investigasi dan Desain (SID).
Program tersebut dibahas dalam kegiatan Review Hasil SID Optimasi Lahan Non Rawa Tahun 2026 yang dibuka langsung Bupati Suwardi Haseng di Ruang Pertemuan Gabungan Dinas, Watansoppeng, Jumat (22/5/2026).
Review SID dilakukan sebagai bagian dari tahapan teknis sebelum pelaksanaan program di lapangan, khususnya pada kawasan pertanian non rawa yang diproyeksikan untuk meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman petani.
Berdasarkan hasil SID , luas usulan awal program tercatat sebesar 6.256,51 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Namun setelah dilakukan delineasi lapangan , luasan tersebut bertambah menjadi 8.315,58 hektare atau meningkat sekitar 2.057,07 hektare.
Mayoritas lokasi program diarahkan untuk peningkatan indeks pertanaman (IP) 200 atau dua kali masa tanam dalam setahun.
Dari total lokasi survei, sebanyak 140 titik atau sekitar 85,4 persen dinilai berpotensi mendukung target tersebut.
Dalam sambutannya , Suwardi Haseng mengatakan sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kabupaten Soppeng sehingga membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, mulai dari pengairan hingga sarana pendukung pertanian lainnya.
Ia menjelaskan , review SID menjadi tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya dengan agenda utama pemaparan hasil kajian teknis oleh tim LPPM Universitas Hasanuddin sebagai penyusun desain program optimasi lahan non rawa tahun 2026.
Hasil review SID juga menunjukkan keterkaitan program optimasi lahan dengan program prioritas daerah “Listrik Masuk Sawah”.
Sekitar 84 persen pekerjaan optimasi lahan direkomendasikan dalam bentuk pembangunan pompa air dan sumur bor berbasis energi listrik.
Dalam laporan SID disebutkan terdapat sekitar 533 titik sumur bor yang tersebar di delapan kecamatan. Selain itu, infrastruktur yang paling banyak direkomendasikan berupa pembangunan pompa air dan jaringan irigasi air tanah (JIAT) pada 132 lokasi.
Review SID turut merekomendasikan penanganan 21 lokasi yang belum memiliki sumber air serta peningkatan sumber air pada 24 lokasi yang masih berada pada indeks pertanaman IP 100.
“Melalui proses review ini diharapkan program berjalan efektif, tepat sasaran, dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian serta indeks pertanaman petani secara berkelanjutan,” pungkas Suwardi.
Sebagai informasi , Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, penyuluh pertanian, tim pengawas, serta tim LPPM Universitas Hasanuddin sebagai penyusun SID.
(Editor: Sahril/Red*)


