Makassar, Sorotanwarga.com - Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulawesi Selatan, Zulkifli Thahir, menekankan bahwa tidak ada hierarki atau kelas dalam profesi wartawan, serta menyerukan persatuan total antarorganisasi pers di Indonesia.
Menurut Zulkifli , keberagaman organisasi wartawan seharusnya menjadi kekuatan strategis demokrasi, bukan sumber perpecahan yang justru melemahkan posisi pers di hadapan kekuasaan.
“Tidak boleh ada lagi saling merendahkan, saling menjatuhkan, atau merasa paling berhak. Tidak ada kelas dalam profesi wartawan. Kita semua berdiri sejajar dalam menjaga kemerdekaan pers,” kata Zulkifli di Makassar pada Rabu (8/2).
Ia mengingatkan , fragmentasi dan ego sektoral antarorganisasi pers hanya membuka ruang intimidasi, kriminalisasi, serta kekerasan terhadap jurnalis.
Karena itu , solidaritas dan kolaborasi dinilai sebagai fondasi utama keberlangsungan pers yang kuat dan bermartabat.
Kata dia , profesi wartawan tidak boleh dijalankan dengan cara-cara intimidatif, apalagi menjadi alat kepentingan sesaat yang bersifat pesanan.
“Pemberitaan by order, tekanan, atau ancaman yang mengabaikan Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Media Siber bukan kerja pers. Itu justru merusak marwah profesi,” ucapnya.
Dia menganalisa , praktik tidak profesional hanya akan berujung pada somasi, gugatan hukum, hingga pelaporan pidana yang merugikan wartawan dan perusahaan pers sendiri.
“Kalau tidak profesional, kredibilitas hilang dan kepercayaan publik runtuh. Integritas dan kualitas adalah harga mati,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu , Zulkifli juga mengkritisi sikap pemerintah yang dinilai masih belum sepenuhnya dewasa dalam menyikapi fungsi kontrol pers.
“Pers itu mitra strategis, bukan musuh. Pemerintah tidak boleh alergi kritik atau memilah-milah media karena perbedaan sikap,” cetusnya.
Terkait itu , ia menolak keras praktik diskriminasi terhadap perusahaan pers, termasuk dalam kerja sama publikasi dan kemitraan anggaran pemerintah.
“Tidak boleh ada tebang pilih. Selama media memenuhi regulasi dan bekerja profesional, semua harus diperlakukan sama. Anggaran publik bukan milik kelompok tertentu,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Zulkifli kembali menegaskan jati diri pers yakni independen, kritis, beretika, dan berpihak pada kepentingan publik.
“Jika pers bersatu, profesional, dan berintegritas, tidak ada kekuatan yang mampu membungkam kita. Itulah makna sejati Hari Pers Nasional,” kuncinya.
(Editor: Sahril/Red*)


